Maksiat Membuat Semua Urusan Dipersulit

Tidaklah pelaku maksiat melakukan suatu urusan, melainkan dia akan menemui berbagai kesulitan dan jalan buntu dalam menyelesaikannya. Demikianlah faktanya.

Sekiranya orang itu bertakwa kepada Allah, niscaya urusannya dimudahkan oleh-Nya. Begitu pula sebaliknya, siapa yang mengabaikan takwa niscaya urusannya akan dipersulit oleh-Nya.

Alangkah mengherankan! Bagaimana mungkin seorang hamba menyaksikan pintu-pintu kebaikan dan kemaslahatan tertutup serta jalan-jalannya menjadi sulit, tetapi dia tidak mengetahui dari mana asalnya?

(Ad-Daa’ wad Dawaa’, Bab Dampak Negatif Maksiat dan Dosa, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. hal. 136).

Menyepelekan Ikhtilat: Awal Mula Maksiat yang Dahsyat

Ukhti yang cantik-cantik…
Hati-hati yaaa, jaga diri..
Jangan sampai atas nama dauroh, rihlah, rapat, tugas kerja, dinas malam lalu menyepelekan ikhtilat campur baur laki perempuan. Setan itu lebih tergugah buat godain orang ngaji karena kalau jatuh dalam maksiat maka dampaknya dahsyat.


“Banyak madhorot yang seringnya dianggap sepele oleh kita, bahkan yang sudah ngaji. Pergaulan ikhtilat laki perempuan juga sering dianggap biasa dengan alasan “mau gimana lagi”.

Coba bayangkan jika seorang lelaki di tempat kerjanya campur dengan wanita…
“Terus kenapa? Ya mau bagaimana lagi?”
“Tuh, kan….antum belum apa-apa sudah terjebak “mau gimana lagi”. Akhi, mustahil wanita bekerja diluar dan bergaul sama banyak orang lalu nggak pake dandan! Laki juga sama! Coba kita bandingkan, saat di tempat kerja dengan banyak ketemu teman sekerja atau sekantornya itu berapa jam? Katakanlah 5 sampai 6 jam ngobrol diselingi canda-canda, ketawa bareng, dan mungkin lebih dari itu bagi yang tidak kenal ngaji, Wallahu A’lam, dan selama itu pula bisa saling lihat dengan tetap sama-sama rapi, wangi nggak ada bau terasi, plus nggak ada pemandangan daster sobek ditambah wajah ori alias original alias free dempul, lalu coba saat berada sama pasangannya di rumah dengan segala tetek-bengek urusan rumah!
5 jam di kantor serasa surga, Akhi!

Sampai ada perceraian suami istri juga karena istrinya kerja di kantor! Ada teman sekantornya laki-laki yang merusak rumah tangganya setelah terjadi konflik sekian waktu dan akhirnya bilang, saya siap menjadi suamimu! Kurang ajar, nggak?
Ada juga kasus lain akhirnya sampai naudzu billah keduanya berzina karena seringnya bertemu saat dinas malam!

Kita ini diuji oleh Allah, dan semoga bukan dihukum, dengan sikap kita yang seringnya menyepelekan nasihat Allah dalam Al-Qur’an, sekali lagi hanya karena kita beralasan darurat mau gimana lagi! Sedang kita tak pernah berusaha mengakhiri kondisi darurat kita. Darurat itu dibolehkan bila memenuhi syarat-syaratnya, tapi juga memiliki masa, tidak sepanjang hari dan selama-lamanya kita dalam kondisi darurat, kenapa? Karena orang ada yang akhirnya menikmati kondisi darurat karena boleh ini boleh itu yang pada asalnya dilarang dalam agama.
Kadang kita juga bermudah-mudah dalam urusan pergi Ikhwan akhawat bareng ke suatu tempat dengan alasan daurah, rihlah , rapat dan lain sebagainya, seakan sudah darurat. Padahal kalau nggak pergi juga nggak ada yang terancam nyawa, harta dan lain sebagainya.
Antum tahu nggak, salah satu rahasia yang tersimpan dalam semua kisah Adam dan iblis yang Allah sampaikan berkali-kali dan semuanya tentang dendam iblis kepada Adam hingga satu-satunya keinginan iblis adalah membuat Adam dan Hawa telanjang?”

“Wah, seru nih kayaknya..!”
“Bentar, sudah sendok terakhir nih….”
“Halah…bilang aja ente mau nambah lagi!”
(Bingung nih, pemirsah…antara nambah es kopyor semangkuk lagi apa mritilin gurame?)


(Fairuz Ahmad)


“Sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah.” (QS. an-Nisa:76)
“Sesungguhnya tipu daya wanita adalah besar.” (QS. Yusuf:28)

Beratnya Kesabaran Menahan Akibat Dosa

Bila Allah memberimu musibah berupa dizalimi orang, maka itu pasti adalah sebagai balasan atas dosa-dosamu, dan bilamana engkau merasa sangat berat menahan kesabaran atas musibah tersebut, maka fikirkanlah beratnya seseorang yang menanggung kesabaran yang engkau menjadi penyebab musibah atasnya.

Fitnah Cinta

Anâ ditanya: “Kok bisa ya orang sebucin itu karena cinta, bahkan disakiti sekalipun masih memaafkan ?.”

Anâ: “kalau ana hanya bisa berdo’a agar dilindungi Allâh dari hal semacam itu, dan anâ gak bisa komentar lebih khawatir hal serupa mengenai anâ, lalu dengan sebab ucapan anâ, anâ akan melakukan hal serupa. Ketahuilah kita bisa mengomentari kehidupan orang lain yang pelik karena saat ini kita berada di posisi stabil, emosional waras, dan dalam keadaan aman. Andai kita berada di posisi yang sama belum tentu kita bisa istiqâmah dengan ucapan kita di saat waras.”

Kata para pujangga Arab:

“Cinta itu bagian dari penyakit gila”.

Kalau orang sedang gila maka akal mereka tak akan mampu menjangkau logika yang sehat.

Betapa banyak dengan sebab cinta orang melepaskan agama mereka, karena cinta betapa banyak manusia menjalin hubungan terlarang, dan karena cinta betapa banyak orang menjadi hamil di luar nikah.

Nasehat anâ:

“Berusahalah menghindari tempat-tempat yang dapat mendatangkan fitnah cinta, bila melihat orang sedang terfitnah oleh cinta maka banyak memohon perlindungan kepada Allâh, jangan banyak mencela mereka yang sedang diuji dengan fitnah cinta karena bisa saja suatu saat engkau akan diuji dengan hal serupa, dan nasehatilah mereka yang sedang terfitnah agar kuat untuk bangkit dari keterpurukan dan keluar dari fitnah, serta tidak menjatuhkan mereka, kemudian tutupilah aib mereka dan semoga Allâh menjagamu dari ketergelinciran serta menutupi aibmu tatkala dirimu tergelincir ke dalam suatu dosa”.

Ustadz Hanafi Abu Abdillah Ahmad

Musibah dan Pahala Kesabaran

Amal kita sedikit dan banyak yg kurang ikhlas dan nggak sesuai tuntunan. Dosa kita banyak, yg besar yg kecil, kepada Allah dan kepada orang lain.

Taubat kita cuma setengah-setengah, masih berat meninggalkan hawa nafsu. Allah beri musibah dan hal-hal buruk supaya dengan kesabaran dan keikhlasan kita Allah beratkan timbangan pahala kita.

Karena pahala sabar tidak ada batasnya.

Musibah yang Tak Disadari

Kebanyakan kita baru menyadari teguran dari Allah setelah diberi musibah berupa hilangnya sebagian kenikmatan duniawi: hilangnya harta benda, sakit, bencana alam, hingga kematian.

Tetapi langka dari kita yang sadar dengan teguran Allah berupa musibah hilangnya kenikmatan dalam ketaatan kepada Allah, Rasul-Nya, suami, orang tua dan ulil amri. Padahal ini musibah yang jauh lebih besar, karena berbuntut keselamatan di akhirat kelak.

Antara Dunia dengan Ilmu

Hidup di dunia itu hanya sebentar, apatah lagi dunia itu maknanya memang sebentar. الدُّنْيَا dari kata دَنِي yang artinya dekat, sebentar. Allah ﷻ juga menyebut dunia sebagai زَهْرَةٌ, mawar. Dalam surah Taha Allah ﷻ berfirman,

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى

“Dan janganlah engkau panjangkan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, itu hanya (sebagai) bunga kehidupan dunia agar Kami uji mereka dengan (kesenangan) itu. Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Thaha: 131)

Mawar itu begitu indah namun cepat sekali layu. Itulah dunia, sebagaimana bunga mawar yang indah namun cepat layu. Semakin banyak fasilitas dunia, harta dan semacamnya maka semakin pusing pula kita dibuatnya, tanpa terasa kita bisa diperbudak oleh harta. Namun berbeda dengan ilmu dan kebaikan, semakin banyak ilmu serta kebaikan semakin pula kita akan menguasainya. Sungguh ilmu itu jauh lebih bermanfaat dari sekedar harta yang kita kumpulkan. Lihat firman Allah dalam surat Yunus 58,

قُلْ بِفَضْلِ ٱللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا۟ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmatNya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”.

Maka benar kata pepatah, di antara orang paling bahagia adalah,

هو الذي إذا توقفت أنفاسه لم تتوقف حسناته

“orang yang telah terhenti nafasnya namun tidak terhenti kebaikan-kebaikannya.”

Maka carilah dunia, namun jangan taruh dihati, taruhlah dunia itu cukup dalam genggaman dan jadikan segala fasilitas dunia yang indah itu sebagai kezuhudan, pakailah segala harta dan dunia agar dia menjadi ilmu dan kebaikan serta hal yang bermanfaat untuk akhirat kita. Dan perlu kita waspada juga dalam dua hal yakni menjaga keikhlasan dan ketawadhu’an, bahwa kebaikan yang tak terhenti dan menjadi amal jariyah itu, setelah taufiq Allah tak akan lepas dari keikhlasan dan ketawadhu’an, itulah teladan guru-guru kita yang telah mendahului kita. Tentu kita ingat kisah Imam Malik yang orang pesimis dengan karya beliau Al Muwatha’ karena dianggap telah ada kitab serupa yang lebih besar, maka apa kata Imam Malik,

ما كان لله بقي

Jawaban yang begitu menakjubkan, “Sesuatu yang ikhlas karena Allah akan lebih langgeng”. Dan benar, Di masa sekarang kebanyakan orang hanya tahu Al Muwatha’ Imam Malik ketimbang Al Muwatha’nya ulama lain.

Pernah pula syaikh Abu Ishaq Al-Huwaini bercerita tentang syaikh Al Albani,

‎فمن ذلك أننى كلما التقيتُ به قبلت يده ، فكان ينزعها بشدَّة ، ويأبى علىَّ ، فلما أكثر قلتُ له : قد تلقينا منكم فى بعض أبحاثكم فى ” الصحيحة ” أن تقبيل يد العالم جائز‪ .‬فقال لى : هل رأيت بعينيك عالماً قطُّ ؟‪‬قلت : نعم ، أرى الآن‪ .‬‬

“Setiap aku berjumpa dengan Al Imam Al-Albani aku mencium tangannya, dan beliau selalu menarik tangan beliau dengan keras, beliau enggan untuk dicium.
Karena sering begitu maka aku mengatakan kepada beliau; “Kami telah bertalaqqi kepada Anda pada sebagian pembahasan, dan kami mendapati di dalam Silsilah Shahihah, hadits mencium tangan seorang ‘alim itu boleh hukumnya.”

Kemudian beliau bertanya, “Apakah engkau pernah melihat seorang ‘alim dengan kedua matamu ?”. Aku menjawab; “Iya aku melihatnya”. Maka lihat jawaban syaikh Al Albani,

‎فقال : إنما أنا ” طويلبُ علمٍ ” ، إنما مثلى ومثلكم كقول القائل‪ :‬إن البُغَاثَ بِأَرْضنَا يَسْتَنْسِرُ‪ !‬‬

“Aku hanyalah Tuwailibul ilmi (penuntut ilmu kecil), aku dan kamu hanya semisal perkataan seseorang “sesungguhnya burung gagak itu di tanah kami berubah warna”.


Dengan perumpamaan ini beliau ingin menegaskan bahwa sanjungan ini berlebihan, hakekatnya ini sanjungan dari orang yang lebih mulia kepada orang rendahan. Dan lihatlah di masa sekarang, begitu banyaknya karya syaikh Al Albani yang dipakai para ulama, beredar dimana-mana bukunya dengan berbagai terjemahannya, terus mengaliri dan melepas dahaga para penuntut ilmu. Begitulah hanya dengan ilmu, ikhlas dan ketawadhu’an kita bisa lepas dari belenggu keindahan dunia ini. Allahul musta’an.

Fahmi Nurul Akbar

Fokus dengan Saat Ini

Kita tak bisa mengatur masa depan, pun juga tak bisa mengubah masa lalu, namun anehnya manusia, mereka seringkali khawatir atau menyesal dengan keduanya sedemikian hingga hilanglah kesempatan dan terbuanglah waktunya percuma. Maka fokuslah dengan yang bermanfaat saat ini dan jangan terlalu memikirkan apa yang ada di depan atau belakang. Sabda Nabi,

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ ” رواه مسلم

“Fokuskan perhatianmu terhadap hal-hal yang bermanfaat bagi dirimu”. (HR Muslim).
Seorang mukmin dengan pertimbangan akalnya yang jernih akan membiarkan perubahan terjadi, dia hanya fokus pada hal yang bermanfaat saat ini, tak perlu takut akan masa depan pun juga tak bersedih akan masa lalu.
أَلَآ إِنَّ أَوْلِيَآءَ ٱللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (QS. Yunus : 62).

Begitu banyak bencana yang terdapat anugerah besar setelahnya, betapa banyak cobaan yang kemudian memunculkan kenikmatan. Waliyullah, tak akan ada kekhawatiran pada mereka ketika menghadapi hiruk-pikuk Hari Kiamat, dan mereka pun tidak bersedih hati atas dunia yang luput dari mereka. Waliyullah, dia tetap tenang di tengah gonjang-ganjing dunia karena Allah lah pegangan mereka. Ibarat pepatah Madura, “patennang, bedheh Allah (tenang saja, ada Allah)”.

Fahmi Nurul Akbar

Mencari Ridho Netizen?

Pastikan setiap postingan kita dalam rangka mencari keridhoan Allah semata, bukan mencari ridho fesbuker (dan netizen).

Ingat, tiga orang yang pertama kali dilempar ke neraka adalah yang beramal demi disebut sebagai orang yang alim, orang yang dermawan, dan orang yang pemberani.

Begitu pula posting agar kita dianggap masuk dalam komunitas tertentu, atau agar kita tidak “dibuang” dari komunitas tersebut, atau agar kita tidak dianggap diam padahal kita sendiri tidak melihat ada maslahat dalam postingan tersebut..

Duhai jariku, engkau akan fana, tapi apa yang kau tulis akan kekal.

Ustadz Ristiyan Ragil Putradianto

Siapa yang Allah Bongkar Aibnya

Siapa yang suka menutupi aib orang lain dengan tidak mencari-cari & membongkarnya, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia & akhirat. Siapa yang hobinya membongkar aib orang, Allah pun akan membongkar aibnya walaupun ia sembunyi di kamarnya. Balasan akan sesuai amal perbuatan.

Ya Allah, beri kami kebersihan hati terhadap saudara-saudara kami yang beriman.

@twitulama

Blog at WordPress.com.

Up ↑