Maksiat Membuat Semua Urusan Dipersulit

Tidaklah pelaku maksiat melakukan suatu urusan, melainkan dia akan menemui berbagai kesulitan dan jalan buntu dalam menyelesaikannya. Demikianlah faktanya.

Sekiranya orang itu bertakwa kepada Allah, niscaya urusannya dimudahkan oleh-Nya. Begitu pula sebaliknya, siapa yang mengabaikan takwa niscaya urusannya akan dipersulit oleh-Nya.

Alangkah mengherankan! Bagaimana mungkin seorang hamba menyaksikan pintu-pintu kebaikan dan kemaslahatan tertutup serta jalan-jalannya menjadi sulit, tetapi dia tidak mengetahui dari mana asalnya?

(Ad-Daa’ wad Dawaa’, Bab Dampak Negatif Maksiat dan Dosa, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. hal. 136).

Awal Mula Selingkuh

Tidak jarang selingkuh dimulai dari saling curhat curcol kepada istri/suami orang lain, dari simpati, lalu empati, lalu berbungalah rasa.

Terbesit pikiran dan godaan setan:
“Aduh seandainya suamiku/istriku seperti dia, enak dicurhatin, pengertian, penuh kasih sayang, lemah lembut, menerima apa adanya dan mau memberikan solusi”

Kaum muslimin hindarilah hal ini, meskipun curhat curcol langsung kepada ustadz/ah, apalagi ustadznya masih muda.

Solusinya adalah: diskusikan atau musyawarahkan dengan orang yang berilmu dan berpengalaman, wanita kepada ustadzah, laki-laki kepada ustadz.

Atau diskusikan kepada anggota keluarga, masih banyak solusi yang lain.

Semoga dijauhkan dari at-takhbib yaitu merusak rumah tangga orang lain.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﻓْﺴَﺪَ ﺍﻣْﺮَﺃَﺓً ﻋَﻠَﻰ ﺯَﻭْﺟِﻬَﺎ ﻓَﻠَﻴْﺲَ ﻣِﻨَّﺎ

”Barang siapa yang merusak hubungan seorang wanita dengan suaminya maka dia bukan bagian dari kami.”[HR. Ahmad]

Artikel http://www.muslimafiyah.com
(Asuhan dr. Raehanul Bahraen, M.Sc, Sp.PK)

raehanulbahraen #kajiandrb #indonesiabertauhid #muslimafiyah #dakwahtauhid #videodakwah #ahlusunnah #muslim #muslimah

Menyepelekan Ikhtilat: Awal Mula Maksiat yang Dahsyat

Ukhti yang cantik-cantik…
Hati-hati yaaa, jaga diri..
Jangan sampai atas nama dauroh, rihlah, rapat, tugas kerja, dinas malam lalu menyepelekan ikhtilat campur baur laki perempuan. Setan itu lebih tergugah buat godain orang ngaji karena kalau jatuh dalam maksiat maka dampaknya dahsyat.


“Banyak madhorot yang seringnya dianggap sepele oleh kita, bahkan yang sudah ngaji. Pergaulan ikhtilat laki perempuan juga sering dianggap biasa dengan alasan “mau gimana lagi”.

Coba bayangkan jika seorang lelaki di tempat kerjanya campur dengan wanita…
“Terus kenapa? Ya mau bagaimana lagi?”
“Tuh, kan….antum belum apa-apa sudah terjebak “mau gimana lagi”. Akhi, mustahil wanita bekerja diluar dan bergaul sama banyak orang lalu nggak pake dandan! Laki juga sama! Coba kita bandingkan, saat di tempat kerja dengan banyak ketemu teman sekerja atau sekantornya itu berapa jam? Katakanlah 5 sampai 6 jam ngobrol diselingi canda-canda, ketawa bareng, dan mungkin lebih dari itu bagi yang tidak kenal ngaji, Wallahu A’lam, dan selama itu pula bisa saling lihat dengan tetap sama-sama rapi, wangi nggak ada bau terasi, plus nggak ada pemandangan daster sobek ditambah wajah ori alias original alias free dempul, lalu coba saat berada sama pasangannya di rumah dengan segala tetek-bengek urusan rumah!
5 jam di kantor serasa surga, Akhi!

Sampai ada perceraian suami istri juga karena istrinya kerja di kantor! Ada teman sekantornya laki-laki yang merusak rumah tangganya setelah terjadi konflik sekian waktu dan akhirnya bilang, saya siap menjadi suamimu! Kurang ajar, nggak?
Ada juga kasus lain akhirnya sampai naudzu billah keduanya berzina karena seringnya bertemu saat dinas malam!

Kita ini diuji oleh Allah, dan semoga bukan dihukum, dengan sikap kita yang seringnya menyepelekan nasihat Allah dalam Al-Qur’an, sekali lagi hanya karena kita beralasan darurat mau gimana lagi! Sedang kita tak pernah berusaha mengakhiri kondisi darurat kita. Darurat itu dibolehkan bila memenuhi syarat-syaratnya, tapi juga memiliki masa, tidak sepanjang hari dan selama-lamanya kita dalam kondisi darurat, kenapa? Karena orang ada yang akhirnya menikmati kondisi darurat karena boleh ini boleh itu yang pada asalnya dilarang dalam agama.
Kadang kita juga bermudah-mudah dalam urusan pergi Ikhwan akhawat bareng ke suatu tempat dengan alasan daurah, rihlah , rapat dan lain sebagainya, seakan sudah darurat. Padahal kalau nggak pergi juga nggak ada yang terancam nyawa, harta dan lain sebagainya.
Antum tahu nggak, salah satu rahasia yang tersimpan dalam semua kisah Adam dan iblis yang Allah sampaikan berkali-kali dan semuanya tentang dendam iblis kepada Adam hingga satu-satunya keinginan iblis adalah membuat Adam dan Hawa telanjang?”

“Wah, seru nih kayaknya..!”
“Bentar, sudah sendok terakhir nih….”
“Halah…bilang aja ente mau nambah lagi!”
(Bingung nih, pemirsah…antara nambah es kopyor semangkuk lagi apa mritilin gurame?)


(Fairuz Ahmad)


“Sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah.” (QS. an-Nisa:76)
“Sesungguhnya tipu daya wanita adalah besar.” (QS. Yusuf:28)

Beratnya Kesabaran Menahan Akibat Dosa

Bila Allah memberimu musibah berupa dizalimi orang, maka itu pasti adalah sebagai balasan atas dosa-dosamu, dan bilamana engkau merasa sangat berat menahan kesabaran atas musibah tersebut, maka fikirkanlah beratnya seseorang yang menanggung kesabaran yang engkau menjadi penyebab musibah atasnya.

Sebuah Kalimat

“Aku lebih baik darinya”
Sebuah kalimat yang mengantarkan iblis terusir dari surga untuk selama-lamanya.

“Akulah Tuhan mu Yang Maha Tinggi”
Sebuah kalimat yang membuat jenazah Fir’aun utuh hingga kini agar bisa diambil pelajaran bagi kaum yang berfikir.

“Apa yang kalian sembah sepeninggal ku?”
Sebuah kalimat terakhir nabi Ya’qub kepada anak-anaknya sebelum ia meninggal.

“Sesungguhnya syirik itu kedzaliman” yang paling besar.
Sebuah kalimat nasehat dari Luqman kepada anak-anaknya

“Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang yang sesat”
Sebuah kalimat dari Nabi Ibrahim yang di usia senjanya baru diberi keturunan.

“Sesungguhnya aku adalah hamba Allah”
Kalimat pertama yang keluar dari mulut Nabi Isa dalam gendongan ibunya.

“Sesungguhnya aku termasuk orang yang zhalim”
Kalimat yang diucapkan oleh Nabi Yunus dengan penuh penyesalan di dalam perut ikan paus.

“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah”
Sebuah kalimat yang semoga menjadi kalimat terakhir saya dan kita semua.

(Ummu Onca)

Gelar Az Zahra untuk Fatimah?

.
Banyak sekali akhwat di sosial media yang menyematkan nama Az Zahra di belakang namanya, sebagaimana orang-orang menyematkan gelar Az Zahra kepada Fathimah radhiyallahu ‘anha
.
Tahukah arti dan makna Az Zahra, yakni wanita suci yang disucikan karena tidak pernah mengalami haidh sama sekali.
.
“Beliau (Fathimah) bergelar Az Zahra karena tidak pernah menjalani haid layaknya wanita-wanita surga, atau karena beliau warna laksana wanita surga, atau karena alasan lainnya. Keterangan-keterangan tersebutlah yang menjadikan beliau beda dalam memiliki karunia Allah yang kemungkinan menjadi hikmah disebalik keturunannya yang akan terus ada dialam ini sebagai ketentraman dari segala bentuk fitnah dan cobaan di jagat raya ini.” (Al Fatawa Al Haditsiyyah Li Ibnu Al Hajar, I/119)
.
Syaikh Muhammad Rasyid Ridha, dalam tafsirnya mengatakan,
.
“Diriwayatkan bahwa Sayyidah Fathimah Az Zahra tidak pernah haidh, oleh karena itulah dia juluki dengan Az Zahra.” (Tafsir Al Manar, 3/246)
.
Memang terdapat ulama Ahlu Sunnah yang menyematkan nama Az Zahra kepada Fathimah radhiyallahu ‘anha, akan tetapi dalil yang dijadikan rujukannya adalah dhaif, matruk dan palsu.
.
Karenanya, tidak bisa dijadikan landasan untuk menerapkan atau menyematkan gelar tersebut secara khusus kepada Az Zahra radhiyallahu ‘anha.
.
Dan begitu pula perkataan ulama bukanlah dalil, perkataan ulama membutuhkan dalil, dan jika dalilnya itu dhaif, matruk dan palsu maka itu tidak juga dapat dijadikan landasan.
.
Al hasil, pujian gelar Az Zahra itu datangnya dari Syi’ah yang menyusup tanpa disadari oleh Ahlu Sunnah.
.
Syaikh Al Hasan Al Halabi rahimahullah berkata,
.
“Di antara pujian ala Syiah yang menyusup di tengah-tengah ahli sunnah adalah mengelari Fathimah dengan gelaran al Batul atau dengan gelaran az Zahra. Sebatas yang kami ketahui kami belum mengetahui dalil dan alasan syar’I untuk memberikan dua gelaran tersebut kepada Fathimah”.
.
Bagi kalian yang memiliki anak perempuan yang diberi nama Az Zahra, segera diganti, karena dari makna namanya saja sudah menyalahi kodrat seorang wanita.
.

(Atha bin Yussuf)

*****

Bagian dari kodrat wanita adalah mengalami haid. Wanita di dunia dianggap normal, ketika dia mengalami haid. Ketika ’Aisyah ikut berangkat haji wada bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mengalami haid. Hal inipun membuat ’Aisyah bersedih, hingga beliau menangis. Sang suami yang penyayang menenangkannya,

’Kamu kenapa? Apa kamu haid?’ tanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

’Ya.’ Jawab ’Aisyah.

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ، فَاقْضِي مَا يَقْضِي الحَاجُّ، غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِي بِالْبَيْتِ

Sesungguhnya haid adalah perkara yang telah Allah tetapkan untuk putri Adam. Lakukan seperti yang dilakukan jamaah haji, hanya saja kamu tidak boleh thawaf di Ka’bah. (HR. Bukhari 294dan Muslim 1211)

Oleh karena itu, ketika ada berita bahwa ada salah satu wanita keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak mengalami haid, yang disampaikan dalam rangka menunjukkan keutamaannya, selayaknya tidak langsung kita terima, namun kita periksa keabsahan berita itu. Karena kondisi ini menyalahi kodratnya wanita.

Referensi: https://konsultasisyariah.com/23336-benarkah-fatimah-tidak-mengalami-haid.html

Yang Merusak Bumi adalah Kemaksiatan


Membuat kerusakan dimuka bumi itu bukan hanya menggunduli hutan, meratakan gunung dan menggali tanah dan batunya untuk diambil emas, perak, batu baru, nekel dan lain sebagainya. Namun yang paling merusak dipermukaan bumi itu adalah berbagai macam kemaksiatan.

Allah Ta’ala berfirman,
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا… [ سورة الأعراف: 56]
Dan janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya. (Al-A’raf: 56).

Berkata As Sa’di rahimahullah,
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بعمل المعاصي بَعْدَ إِصْلَاحِهَا بالطاعات، فإن المعاصي تفسد الأخلاق والأعمال والأرزاق
Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi” dengan amal KEMAKSIATAN-KEMAKSIATAN “sesudah (Allah) memperbaikinya”, maka sesungguhnya kemaksiatan-kemaksiatan akan merusak akhlak, amal-amal dan rizki-rizki.
كما قال تعالى: ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ كما أن الطاعات تصلح بها الأخلاق، والأعمال، والأرزاق، وأحوال الدنيا والآخرة.

Sebagaimana firman Allah “telah Nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.” Sebagaimana bahwasanya ketaatan-ketaatan dengannya memperbaiki akhlak, amal-amal, rizki-rizki dan keadaan dunia dan akhirat. (Tafsir As Sa’di).

AFM
Copas dari berbagai sumber

Fitnah Cinta

Anâ ditanya: “Kok bisa ya orang sebucin itu karena cinta, bahkan disakiti sekalipun masih memaafkan ?.”

Anâ: “kalau ana hanya bisa berdo’a agar dilindungi Allâh dari hal semacam itu, dan anâ gak bisa komentar lebih khawatir hal serupa mengenai anâ, lalu dengan sebab ucapan anâ, anâ akan melakukan hal serupa. Ketahuilah kita bisa mengomentari kehidupan orang lain yang pelik karena saat ini kita berada di posisi stabil, emosional waras, dan dalam keadaan aman. Andai kita berada di posisi yang sama belum tentu kita bisa istiqâmah dengan ucapan kita di saat waras.”

Kata para pujangga Arab:

“Cinta itu bagian dari penyakit gila”.

Kalau orang sedang gila maka akal mereka tak akan mampu menjangkau logika yang sehat.

Betapa banyak dengan sebab cinta orang melepaskan agama mereka, karena cinta betapa banyak manusia menjalin hubungan terlarang, dan karena cinta betapa banyak orang menjadi hamil di luar nikah.

Nasehat anâ:

“Berusahalah menghindari tempat-tempat yang dapat mendatangkan fitnah cinta, bila melihat orang sedang terfitnah oleh cinta maka banyak memohon perlindungan kepada Allâh, jangan banyak mencela mereka yang sedang diuji dengan fitnah cinta karena bisa saja suatu saat engkau akan diuji dengan hal serupa, dan nasehatilah mereka yang sedang terfitnah agar kuat untuk bangkit dari keterpurukan dan keluar dari fitnah, serta tidak menjatuhkan mereka, kemudian tutupilah aib mereka dan semoga Allâh menjagamu dari ketergelinciran serta menutupi aibmu tatkala dirimu tergelincir ke dalam suatu dosa”.

Ustadz Hanafi Abu Abdillah Ahmad

Musibah dan Pahala Kesabaran

Amal kita sedikit dan banyak yg kurang ikhlas dan nggak sesuai tuntunan. Dosa kita banyak, yg besar yg kecil, kepada Allah dan kepada orang lain.

Taubat kita cuma setengah-setengah, masih berat meninggalkan hawa nafsu. Allah beri musibah dan hal-hal buruk supaya dengan kesabaran dan keikhlasan kita Allah beratkan timbangan pahala kita.

Karena pahala sabar tidak ada batasnya.

Musibah yang Tak Disadari

Kebanyakan kita baru menyadari teguran dari Allah setelah diberi musibah berupa hilangnya sebagian kenikmatan duniawi: hilangnya harta benda, sakit, bencana alam, hingga kematian.

Tetapi langka dari kita yang sadar dengan teguran Allah berupa musibah hilangnya kenikmatan dalam ketaatan kepada Allah, Rasul-Nya, suami, orang tua dan ulil amri. Padahal ini musibah yang jauh lebih besar, karena berbuntut keselamatan di akhirat kelak.

Blog at WordPress.com.

Up ↑