Antara Dunia dengan Ilmu

Hidup di dunia itu hanya sebentar, apatah lagi dunia itu maknanya memang sebentar. الدُّنْيَا dari kata دَنِي yang artinya dekat, sebentar. Allah ﷻ juga menyebut dunia sebagai زَهْرَةٌ, mawar. Dalam surah Taha Allah ﷻ berfirman,

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى

“Dan janganlah engkau panjangkan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, itu hanya (sebagai) bunga kehidupan dunia agar Kami uji mereka dengan (kesenangan) itu. Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Thaha: 131)

Mawar itu begitu indah namun cepat sekali layu. Itulah dunia, sebagaimana bunga mawar yang indah namun cepat layu. Semakin banyak fasilitas dunia, harta dan semacamnya maka semakin pusing pula kita dibuatnya, tanpa terasa kita bisa diperbudak oleh harta. Namun berbeda dengan ilmu dan kebaikan, semakin banyak ilmu serta kebaikan semakin pula kita akan menguasainya. Sungguh ilmu itu jauh lebih bermanfaat dari sekedar harta yang kita kumpulkan. Lihat firman Allah dalam surat Yunus 58,

قُلْ بِفَضْلِ ٱللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا۟ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmatNya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”.

Maka benar kata pepatah, di antara orang paling bahagia adalah,

هو الذي إذا توقفت أنفاسه لم تتوقف حسناته

“orang yang telah terhenti nafasnya namun tidak terhenti kebaikan-kebaikannya.”

Maka carilah dunia, namun jangan taruh dihati, taruhlah dunia itu cukup dalam genggaman dan jadikan segala fasilitas dunia yang indah itu sebagai kezuhudan, pakailah segala harta dan dunia agar dia menjadi ilmu dan kebaikan serta hal yang bermanfaat untuk akhirat kita. Dan perlu kita waspada juga dalam dua hal yakni menjaga keikhlasan dan ketawadhu’an, bahwa kebaikan yang tak terhenti dan menjadi amal jariyah itu, setelah taufiq Allah tak akan lepas dari keikhlasan dan ketawadhu’an, itulah teladan guru-guru kita yang telah mendahului kita. Tentu kita ingat kisah Imam Malik yang orang pesimis dengan karya beliau Al Muwatha’ karena dianggap telah ada kitab serupa yang lebih besar, maka apa kata Imam Malik,

ما كان لله بقي

Jawaban yang begitu menakjubkan, “Sesuatu yang ikhlas karena Allah akan lebih langgeng”. Dan benar, Di masa sekarang kebanyakan orang hanya tahu Al Muwatha’ Imam Malik ketimbang Al Muwatha’nya ulama lain.

Pernah pula syaikh Abu Ishaq Al-Huwaini bercerita tentang syaikh Al Albani,

‎فمن ذلك أننى كلما التقيتُ به قبلت يده ، فكان ينزعها بشدَّة ، ويأبى علىَّ ، فلما أكثر قلتُ له : قد تلقينا منكم فى بعض أبحاثكم فى ” الصحيحة ” أن تقبيل يد العالم جائز‪ .‬فقال لى : هل رأيت بعينيك عالماً قطُّ ؟‪‬قلت : نعم ، أرى الآن‪ .‬‬

“Setiap aku berjumpa dengan Al Imam Al-Albani aku mencium tangannya, dan beliau selalu menarik tangan beliau dengan keras, beliau enggan untuk dicium.
Karena sering begitu maka aku mengatakan kepada beliau; “Kami telah bertalaqqi kepada Anda pada sebagian pembahasan, dan kami mendapati di dalam Silsilah Shahihah, hadits mencium tangan seorang ‘alim itu boleh hukumnya.”

Kemudian beliau bertanya, “Apakah engkau pernah melihat seorang ‘alim dengan kedua matamu ?”. Aku menjawab; “Iya aku melihatnya”. Maka lihat jawaban syaikh Al Albani,

‎فقال : إنما أنا ” طويلبُ علمٍ ” ، إنما مثلى ومثلكم كقول القائل‪ :‬إن البُغَاثَ بِأَرْضنَا يَسْتَنْسِرُ‪ !‬‬

“Aku hanyalah Tuwailibul ilmi (penuntut ilmu kecil), aku dan kamu hanya semisal perkataan seseorang “sesungguhnya burung gagak itu di tanah kami berubah warna”.


Dengan perumpamaan ini beliau ingin menegaskan bahwa sanjungan ini berlebihan, hakekatnya ini sanjungan dari orang yang lebih mulia kepada orang rendahan. Dan lihatlah di masa sekarang, begitu banyaknya karya syaikh Al Albani yang dipakai para ulama, beredar dimana-mana bukunya dengan berbagai terjemahannya, terus mengaliri dan melepas dahaga para penuntut ilmu. Begitulah hanya dengan ilmu, ikhlas dan ketawadhu’an kita bisa lepas dari belenggu keindahan dunia ini. Allahul musta’an.

Fahmi Nurul Akbar

Kok Dunia yang Diincar?

“Antum secerdas apapun, seberilmu apapun, kalau yang di incar Dunia, ya tetep aja receh. Wong dunia lebih hina dari bangkai kambing yang cacat.”

✍🏻 Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri hafidzahullah

Mekanisme Pasar dan Sebuah Kontradiksi

⛔Ketika tersebar kesyirikan dan kebid’ahan, mereka diam saja walau hak Allah dilanggar

⛔Ketika kaum wanita bertabarruj (keluar rumah dengan berhias/bersolek bahkan menanggalkan jilbab), mereka juga bungkam. Padahal ketika kaum muslimat rusak, akan rusak pula generasi kaum muslimin

⛔Ketika minuman keras dan narkotika tersebar luas, mereka juga menutup mata. Padahal berapa banyak kerusakan dan kemaksiatan yang akan muncul akibat alkohol dan zat adiktif

⛔Namun ketika harga barang dan sembako naik, mereka dengan segala argumennya akan turun ke jalan

Lupakah mereka bahwa naik dan turunnya harga barang merupakan ketentuan Allah Azza wa Jalla sesuai mekanisme pasar?
Tidak selalu karena kezhaliman pemegang kebijakan.

عَنْ أَنَسٍ قَالَ : غَلَا السِّعْرُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ ، سَعِّرْ لَنَا . فَقَالَ : إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ الْقَابِضُ الْبَاسِطُ الرَّزَّاقُ وَإِنِّي لَأَرْجُو أَنْ أَلْقَى رَبِّي وَلَيْسَ أَحَدٌ مِنْكُمْ يَطْلُبُنِي بِمَظْلِمَةٍ فِي دَمٍ وَلَا مَالٍ

Dari Anas, ia berkata, “Telah naik harga barang pada era Rasulullah Shallallāhu ‘alaihi wasallam, lalu mereka berkata, “Wahai Rasulallah, tetapkanlah harga barang untuk kami.” Lalu Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya Allah adalah Rabb yang menetapkan harga, yang menahan (rizki), yang membentangkan (rizki) dan Maha Pemberi Rizki. Sesungguhnya aku berharap ketika aku berjumpa dengan Rabb-ku nanti, tanpa ada seorang pun dari kalian yang menuntut kepadaku lantaran kezaliman pada darah dan harta” (HR. Tirmizi, Bab Penetapan Harga, hadits no : 1235)

Ustadz Abu Razin Taufiq

Mengejar Dunia

Mengejar pundi-pundi dunia itu tidak ada habis-habisnya. Semakin dunia di kejar, dunia semakin berlari. Sudah di dapatkan satu perbendaharaan dunia, akan mengejar perbendaharaan yang lain.

Sudah punya satu lembah emas, kembali menginginkan lembah emas yang lain. Semakin dunia dikejar, semakin dia berlari menjauh. Akhirnya hari-harinya disibukkan untuk mencari dunia, melalaikan kehidupan akhirat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda :

لَوْ أَنَّ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ ، وَلَنْ يَمْلأَ فَاهُ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

“Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekai tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Sebaliknya kalau akhirat yang dikejar, dunia akan balik mengejar dan mendatanginya. Kekurangan dan kefaqiran akan sirna dan kecukupan akan mewarnai hari-harinya.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ ، جَمَعَ اللهُ
أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ.

Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allâh akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya.

Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.” (Riwayat Ibnu Majah – Hadits Shahih).

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman :

يَا ابْنَ آدَمَ ! تَـفَـرَّغْ لِـعِـبَـادَتِـيْ أَمْـلَأْ صَدْرَكَ غِـنًـى وَأَسُدَّ فَقْرَكَ ، وَإِنْ لَـمْ تَفْعَلْ مَلَأْتُ يَدَيْكَ شُغْلًا وَلَـمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ

‘Wahai anak Adam! Luangkanlah waktumu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku penuhi dadamu dengan kekayaan (kecukupan) dan Aku tutup kefakiranmu. Jika engkau tidak melakukannya, maka Aku penuhi kedua tanganmu dengan kesibukan dan Aku tidak akan tutup kefakiranmu.’” (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah. Berkata

Syaikh al-Albani : Hadist Shahîh).

Memang ada sebagian pencari pundi-pundi dunia, masih sempat beribadah, namun itupun disisa-sisa waktunya dalam mengejar dunia. Seperti shalat, kadang mengerjakannya mendahului waktunya dan kadang mengakhirkannya, karena kepentingan dunia yang selalu menghantuinya takut luput darinya.

Abdullah bin ‘Aun rahimahullah berkata:

«إنَّ مَـنْ كان قبْلنـَا كانوا يَجْعلُـونَ للـدنيا مـا فَضُـلَ عَـنْ ِآخـرتهـم، وإنّكـم تجعلـُون لآخـرتِكُـم مـَا فَضُـلَ عَـنْ دُنْيَاكـم»

“Sesungguhnya orang-orang sebelum kita, mereka menjadikan dunia, apa yang tersisa dari urusan akhirat mereka, dan sesungguhnya kalian, menjadikan untuk akhirat kalian, apa yang tersisa dari urusan dunia kalian.” (Shifatush Shafwah, jilid 3 hlm. 101). Sumber :http://islamport.com/w/trj/Web/5242/216.htm

AFM
Tulisan ini terinspirasi dari seseorang yang hampir setahun menemani dan mengawal beberapa konglomerat di negeri ini.

Relativitas Berat dan Ringannya Musibah

Kapan musibah terasa sangat berat sekali?

Ketika dunia itu terasa besar dalam jiwa Anda, maka musibah yang terjadi di dalamnya kan terasa sangat berat.

Namun jika dunia itu kecil di mata Anda, maka musibah yang terjadi di dalamnya pun terasa amat ringan.

Inilah rahasia kebahagiaan orang-orang yang sibuk dengan akhirat dibandingkan dunia.

Syaikh Prof. Dr. Ahmad Al Khalil

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑