Tikus-Tikus Terus Saja Masuk

Tukang filsafat bawa kedustaan, dongeng dan khurafat. Sudah sejak awal Ahlus Sunnah mewanti-wanti. Eh, mereka baru ngeh sekarang. Kecolongan. Tapi masih saja sempat mengkambinghitamkan Wahabi.

Pawang hujan bawa kedustaan, khurafat dan ritual aneh. Sudah dibahas di kajian-kajian Ahlus Sunnah soal tauhid, hujan dan bebintangan. Akhirnya pawang hujan jadi bahan tertawaan. Eh, ada yang masih sempat mengkambinghitamkan Kadrun.

Kadang orang mencari kambing hitam untuk menutupi keterlambatannya dalam mengantisipasi. Kadung malu, tapi tidak mau menanggung beban sendiri.

Ada orang rumahnya banyak celah buat tikus masuk. Tetangga sudah sejak lama memberi saran agar disumbat. Akhirnya saat bejibun tikus masuk, kelagepan. Yang disalahin malah tetangga yang dianggap bawel dan hobi menyalahkan.

Ahlus Sunnah banyak membahas perkara agama dari ushulnya. Dari asasnya. Dari dalilnya. Tidak sibuk mentakwil macam-macam seperti kebablasannya para nganu itu. Tapi sudah terbukti berulang. Kaum tertentu berkali-kali kecolongan. Padahal sudah lama dibahas sama Ahlus Sunnah dan mereka ngeyel. Tidak cukup ngeyel. Plus stempel Wahabi atau Kadrun disertakan. Tikus tetap akan terus masuk kalau celah-celah tidak disumbat dan diperbaiki. Tokoh-tokoh sesat akan terus terbit dari kaum ini kalau aqidah tidak dibenahi.

Ustadz Hasan Al Jaizy

Sikap Pertengahan Terhadap Ibnu Sina

.
Abu Ali Al Husain bin Abdillah al-Balkhi (wafat 427H), lebih dikenal dengan nama Ibnu Sina, adalah seorang ilmuwan ahli di bidang kedokteran, bidang filsafat, kimia dan berbagai macam ilmu lainnya. Beliau terkenal cerdas dan menguasai cukup banyak bidang ilmu. Beliau juga belajar agama, akan tetapi pelajaran agama beliau banyak terpengaruh oleh ilmu filsafat Yunani dan terpengaruh ajaran-ajaran yang menyimpang akidah Islam. Bahkan penyimpangan-penyimpangan yang ia lakukan sampai pada level mengeluarkan pelakunya dari Islam. Beliaupun ikut mendakwahkan akidah menyimpang ini, dan menulis beberapa kitab filsafat diantaranya “asy-Syifa”, “al-Isyarat”, “al-Qanun”, dan yang lainnya.
.
Inti dari tulisan kami adalah sikap pertengahan terhadap Ibnu Sina terkait status beliau sebagai ilmuwan dan akidah beliau yang sangat jauh keluar dari Islam. Ada beberapa poin yang perlu kita perhatikan:
.
Pertama: Banyak ulama yang sudah menganggap beliau keluar dari Islam karena akidah yang sangat melenceng dari Islam. Mungkin ini hal ini membuat “kaget” sebagian kaum muslimin di Indonesia karena selama ini mereka mengira bahwa Ibnu Sina adalah Islam dan ilmuwan Islam. Kami akan nukilkan perkataan-perkataan ulama yang menyatakan hal ini, terutama ulama yang terkenal dari mazhab Syafi’i yang merupakan mazhab mayoritas di Indonesia semisal Adz-Dzahabi, Ibnu Hajar Al-Asqalani, dan Ibnu Katsir. Masih banyak penjelasan ulama lainnya terkait akidah Ibnu Sina ini.
.
Kedua: Status beliau sebagai seorang ilmuwan, maka kita pun memperlakukan beliau sebagaimana ilmuwan non-muslim lainnya. Tidak haram mengambil ilmu dunia bermanfaat dari beliau, selama hal itu tidak ada kaitannya dengan agama.
.
Ketiga: Ada pendapat yang lemah (karena kebenarannya belum bisa dipastikan) bahwa beliau telah bertaubat dari akidah yang menyimpang tersebut ketika akan meninggal. Tentu kita sangat berharap ini benar. Namun demikian, pendapat ini lemah, dan yang terpenting bagi kita adalah tetap berlepas diri dan mengingatkan umat dari akidahnya yang sangat melenceng dari akidah Islam.
.

(Ust dr Raehanul Bahraen)

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑