Istri Penghuni Surga

Seorang isteri calon penghuni surga itu adalah isteri yang penuh dengan kasih sayang, yang banyak anaknya dan jika suaminya marah, segera mendatangi suaminya meminta maaf dan meminta keridhaannya.

Ada sebagian isteri yang memiliki sifat yang sangat tercela, cepat marah, suka membantah, membentak, membangkang dan zalim kepada suaminya. Begitu pula kepada anak-anaknya, seakan-akan tidak ada sifat belas kasihnya dan rasa sayangnya. Kalau dia marah dengan suaminya, bukannya dia yang datang meminta maaf kepada suaminya, padahal dia yang salah, tetapi suaminya yang mesti datang menghiba-hiba meminta maaf, supaya dunia menjadi tenang lagi dan terjadi perdamaian.

Disamping itu pula, tidak mau banyak anak, tidak mau repot dan disibukkan dengan mengurus anak, bahkan tidak mau punya anak sama sekali. Betul-betul bertentangan sekali dengan sifat isteri ahlul surga yang Nabi shallallahu alaihi wa sallam kabarkan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟ الْوَدُوْدُ الْوَلُوْدُ الْعَؤُوْدُ عَلَى زَوْجِهَا، الَّتِى إِذَا غَضِبَ جَاءَتْ حَتَّى تَضَعَ يَدَهَا فِي يَدِ زَوْجِهَا، وَتَقُوْلُ: لاَ أَذُوقُ غَضْمًا حَتَّى تَرْضَى

“Maukah aku beri tahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya. Di mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata, “Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha.” (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa no. 257. Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, asy- Syaikh Albani rahimahullah, no. 287).

AFM

Qowwam Lelaki

Menjadi lelaki tidak perlu terlalu banyak sambat dan berkeluh kesah di sosmed. Kekuatan lelaki adalah banyak berbuat dalam diam dan selalu melibatkan Allah dalam setiap urusan.

Nggak punya uang ya bekerjalah mencari uang. Sedang sakit ya berusahalah bagaimana bisa berobat. Ada masalah ya berupayalah mencari pemecahan. Keluarga banyak kebutuhan ya berjuanglah bagaimana bisa memenuhinya.

Berat? Ya memang. Tapi demikianlah seorang qowwam di-setting untuk memikul beban-beban hidup. Itu sudah sunnatullah terkait kodrat lelaki. Jika tidak siap dengan semua kodrat itu, ya tidak usah menjadi lelaki.

Tertanda:
Bukan Elon Musk

(Ammi Ahmad)

Asal Mulai Kedurhakaan Seorang Istri

Catat baik-baik…
Kapan kamu ingat terakhir kali suamimu takut menegur kesalahanmu atau bingung dengan cara bagaimana ia harus menasihatimu, itu adalah awal mula kamu menjadi istri durhaka.

Karena suami adalah imam sekaligus pendidik bagi keluarganya, ia akan dimintai pertanggungjawaban tentangmu dan tentang anak²nya di akhirat nanti.

(Faishal Abu Ibrahim)

Pernikahan itu dengan Qiyamul Lail, bukan dengan …

Terjemahannya:

“Pernikahan itu dengan qiyâmul lail dan merengek di dalam do’a, bukan chatingan dengan para wanita di medsos..

Istri yang shâlihah tidaklah datang dengan usahamu, sungguh ia hanyalah anugerah yang Allâh berikan kepadamu..

Jadilah engkau lelaki shâlih maka engkau akan segera menemukan istri shâlihah dengan idzin Allâh.”

IG Penerjemah: @mencari_jalan_hidayah

Untuk Para Ibu Demi Masa Depan Putrinya

  1. Hormatilah suamimu ketika dia di rumah atau di luar rumah, dan bersegeralah memenuhi kebutuhannya, khususnya di depan putri-putrinya.
  2. Jangan bertikai dengan suami di depan anak-anak, never! Perselisihan yang terjadi tidak boleh melewati pintu kamar tidur.
  3. Sengajalah meminta izin suami di depan putri-putrinya, bila ingin masuk atau keluar atau apa saja.
  4. Jangan pernah menampakkan pembangkangan atas perkataan suami di depan putri-putri.
  5. Bagi istri-istri penguasa terhadap suaminya, yang ikut campur dalam segala urusan suaminya bahkan mengintrogasi suami (Kenapa jendelanya dibuka? Bagaimana kamu keluar sendirian kemarin?! Kenapa beli roti ini?dll), seakan dialah komandan di rumah, menyuruh, memerintah dan melarang di rumah.
    Yakinlah bahwa putri-putrinya kelak akan menjadi fotocopy dirinya, secara otomatis dia akan menguasai suaminya seperti yang dia lihat di ibundanya, dan bila ternyata dia mendapatkan suami yang memiliki kepribadian yang berbeda dengan ayahnya, maka tiada solusi kecuali CERAI.
  6. Seorang istri tidak boleh memberikan izin bagi lelaki untuk memasuki rumahnya dikala suaminya tidak di rumah, walaupun dia itu adalah teman dekat keluarga ataupun tetangga.
  7. Seorang ibu yang mulia akan bersolek dan berdandan untuk suaminya, dengan sengaja dia menunjukkan hal itu di depan putri-putrinya seraya menjelaskan bahwa itu adalah hak suami, dan dia juga tidak bersolek ketika keluar rumah, atau di depan orang yang bukan suami, untuk memberi contoh nyata pada putri-putrinya
  8. Istri yang sholelah tidaklah pelit dan tidak pula boros untuk urusan rumah, dia berada di tengah.
  9. Sangat indah sekali, bila anak-anak meminta sesuatu pada ibunya dan sang ibu berkata kepada mereka: “Kita akan menanyakannya pada ayah, dan kita tidak akan melakukan sesuatu kecuali bila direstui olehnya”.
    Dengan seringkalinya melakukan hal ini, maka akan tertancap di dalam diri putri-putri penyerahan tongkat kepemimpinan pada lelaki, dan tidak boleh seorang wanita menelanjangi suaminya dari pakaian kepemimpinan dengan dalih gender dan kebebasan.
  10. Istri yang sholehah akan menyambut kedatangan suaminya dengan wajah yang ceria dan tidak langsung mengadukan tingkah anak-anak yang menyebalkan atau tetangga, atau apa saja. Namun ia akan mencari waktu yang tepat.
  11. Tidaklah elok seorang istri mengadukan kehamilannya, urusan menyusui, atau pekerjaan rumah di depan putri-putrinya karena hal itu akan terekam di memorinya.
  12. Tatkala ada tetangga atau teman wanita memintanya untuk turut berkunjung ke rumah fulanah, hendaklah sang ibu berkata pada mereka dan diperdengarkan pada putri-putrinya, ‘Aku akan memberitahu suamiku, bila dia setuju maka aku akan ikut”, dan tatkala suaminya datang maka ia memberitahu suaminya tanpa nada paksaan,”Apakah ia diperbolehkan untuk berkunjung ke rumah fulanah”, dan bila suaminya diam saja, maka ia tidak memaksa, dan langsung memberi tahu temannya bahwa ia tidak bisa ikut, di depan putri-putrinya.
  13. Bila sang ayah memerintahkan kepada anggota keluarga suatu perintah, maka hendaklah sang ibu bersegera melaksanakannya dan menyuruh anak-anak bersegera, dan mengajarkan pada mereka pentingnya mematuhi perintah suami, tatkala anak-anak merasakan hal itu maka ia akan tumbuh besar menghormati nahkoda yang kelak mengemudikan bahteranya agar tidak pecah dan tenggelam di samudra.
  14. Tatkala seorang istri meminta kepada suaminya berbagai macam permintaan yang melelahkan suaminya karena ketidakmampuannya, maka kelak putrinya akan menirunya tatkala mereka menjadi istri.
  15. Seorang istri yang duduk ngobrol bersama tetangga atau temannya menceritakan rahasia-rahasia rumah tangganya, maka kelak putrinya akan dengan mudah menyingkap rahasia suaminya di depan orang lain, tatkala ia menjadi istri.

InsyaAllah dengan menjalankan nasehat-nasehat ini, kelak putri-putri kita akan menjadi istri-istri dan ibu-ibu yang mencetak mujahid-mujahid dakwah masa depan.

[Dari Kitab Kaifa Takun Ahsan murobbi fil ‘alam, h 44-45, diterjemahkan oleh Ust. Syafiq Basalamah, M.A]

ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻫَﺐْ ﻟَﻨَﺎ ﻣِﻦْ ﺃَﺯْﻭَﺍﺟِﻨَﺎ ﻭَﺫُﺭِّﻳَّﺎﺗِﻨَﺎ ﻗُﺮَّﺓَ ﺃَﻋْﻴُﻦٍ ﻭَﺍﺟْﻌَﻠْﻨَﺎ ﻟِﻠْﻤُﺘَّﻘِﻴﻦَ ﺇِﻣَﺎﻣًﺎ

“Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al Furqon: 74).

__
Postingan ini dipublikasikan oleh page IKuttab Media Edukasi (2018)

insyaAllah dengan menjalankan nasehat-nasehat ini, kelak putri-putri kita akan menjadi istri-istri dan ibu-ibu yang mencetak mujahid-mujahid dakwah masa depan.

[Dari Kitab Kaifa Takun Ahsan murobbi fil ‘alam, h 44-45, diterjemahkan oleh Ust. Syafiq Basalamah, M.A]

ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻫَﺐْ ﻟَﻨَﺎ ﻣِﻦْ ﺃَﺯْﻭَﺍﺟِﻨَﺎ ﻭَﺫُﺭِّﻳَّﺎﺗِﻨَﺎ ﻗُﺮَّﺓَ ﺃَﻋْﻴُﻦٍ ﻭَﺍﺟْﻌَﻠْﻨَﺎ ﻟِﻠْﻤُﺘَّﻘِﻴﻦَ ﺇِﻣَﺎﻣًﺎ

“Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al Furqon: 74).

__
Postingan ini dipublikasikan oleh page IKuttab Media Edukasi (2018)

Istri Durhaka Facebookers Jaman Now

(Ummu Hafizh)

Saya belum pernah membaca status facebook seorang suami membeberkan aib dan cela istrinya NAMUN saya sangat banyak melihat kaum istri yang selalu mengumbar aib suami dan permasalahan rumah tangganya dibuat status facebook.

Faktanya……
Ada masalah sama suami curhat di facebook
Ngambek sama suami buat status facebook
Marah sama suami buat status facebook
Suami ada aib dibuat status facebook
Jadi tontonan orang permasalahan keluarga…
Jadi rusak kehormatan suami.
Jadi bahan gunjingan orang…
Jadi bahan candaan orang….
Pengunjung facebook bebas kritik suami, ejek suami, hina suami karena istri beberkan aib dan permasalahan rumah tangga dengan penuh cela distatus facebooknya.
Allaahul musta’an…

Istri model ini amat besar dosanya disisi Allah sebab hancurkan kehormatan dan harga diri suaminya, menyakiti hati dan perasaan suaminya dan akan mendapatkan doa laknat dari para bidadari di Syurga. Kelar hidup loo duhai istri jika didoakan buruk sama bidadari syurga…!

Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُؤْذِى امْرَأَةٌ زَوْجَهَا فِى الدُّنْيَا إِلاَّ قَالَتْ زَوْجَتُهُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ لاَ تُؤْذِيهِ قَاتَلَكِ اللَّهُ فَإِنَّمَا هُوَ عِنْدَكِ دَخِيلٌ يُوشِكُ أَنْ يُفَارِقَكِ إِلَيْنَا

“Jika seorang istri menyakiti suaminya di dunia, maka calon istrinya di akhirat dari kalangan bidadari akan berkata:
“Janganlah engkau menyakitinya. Semoga Allah mencelakakanmu sebab ia hanya sementara berkumpul denganmu. Sebentar lagi ia akan berpisah dan akan kembali kepada kami.” (HR. Tirmidzi no. 1174 dan Ibnu Majah no. 2014. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

Duhai para istri yang suka umbar aib suami, Rasulullah memerintahkan menutupi aib sesama muslim, termasuk pasanganmu
Rasulullah Shalallaaahu alaihi wa salam bersabda, “Barang siapa menutupi (aib) seorang Muslim maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.” (HR Muslim).

NB:

  1. Kehormatan seorang muslim itu lebih mulia dari Ka’bah yang mulia, ingatlah itu ketika kita ingin menjelekkan suami ataupun istri
  2. Hati-hatilah dari menjatuhkan kehormatan ataupun membuka aib seorang muslim.

Tidak Mampu Memperbaiki Rumahnya Sendiri, tapi

‏‏عجباً لرجل لا يستطيع أن يصلح بيته وزوجته وأولاده وهو مسؤول عنهم ؛ ويريد أن يصلح الحاكم وهو غير مسؤول عنه !
‏✍️الألباني .

Al-Albâniy rahimahullâh berkata:
“Menakjubkan bagi orang yang ia tidak mampu memperbaiki rumahnya, istrinya, dan anak-anaknya padahal ia akan ditanya tentang mereka, tetapi ia ingin memperbaiki hâkim (penguasa) padahal ia tidak akan ditanya tentangnya.”

IG Penerjemah: @mencari_jalan_hidayah

Istri yang Menyembunyikan Suaminya

Ini kisah nyata yang kualami sendiri, aku adalah seorang jomblowati yang berteman ke sana-sini. Dan aku berteman dengan seorang ummahat, sudah hampir 3 tahun kenal, sering bertemu di majelis ilmu, pernah juga satu profesi, dan kadang kami kumpul-kumpul bersama akhwat lainnya.

Bagiku, ia sosok yang mengagumkan dalam seni menyembunyikan kehidupan rumah tangganya. Umur rumah tangganya melebihi umur pertemanan kami. Namun, tak pernah sekalipun ia menggambarkan sosok suaminya, tak pernah ia bercerita panjang lebar tentang keluarga kecilnya. Baik itu keromantisan ataupula sebuah pertengkaran, tak kudapati ia sebuti.

Jangankan untuk menge-tag akun suaminya di sosial media, menyebutkan nama suaminya di depan kami(para teman akhwatnya) saja tidak pernah ia lakukan.

Betapa ia begitu menjaga, apa yang memang seharusnya dijaga. Begitu besar rasa cemburunya, hingga tak ada celah yang ia tampakkan dari kehidupan rumah tangganya. Mungkin hanya orang-orang terdekat yang tahu kehidupan keluarganya. Bukan teman pada umumnya, bukan pula dibeberkan di sosial media yang siapa saja bisa mengetahuinya.

Untukmu, wahai ummahat yang begitu menjaga kehidupan rumah tangga, aku benar-benar banyak belajar darimu. Seni menjaga yang sangat besar manfaatnya, apalagi buat para jomblo yang sering menghalu tentang indahnya kehidupan berumah tangga, disebabkan bersilewernya pasangan-pasangan yang memamerkan keromantisannya di sosial media.

Darimu, aku mengerti hakikat cemburu yang sesungguhnya. Bahwa suamimu adalah milikmu, cukup kau yang tahu, cukup menjadi privasimu.

Semoga Allah menjagamu, keluargamu, dan keturunanmu.
Aku kagum dengan caramu menjaga kehidupan berumah tangga.

Jejak Pena | @tintadya
telegram | t.me/tintadya15

********************

Wahai kalian para suami, hendaklah kalian berlaku serupa. Apalagi kalian terancam dengan predikat lelaki dayyuts yang dengan itu diharamkan atasnya Surga.

Tidak Perlu Ada Kumpulan Pejuang Poligami

Jika ingin, dan siapalah yang tak ingin…
Lebih tepatnya, jika sudah kuat hasratnya, maka bercerminlah: ‘ibadah dan ketakwaan’ atau sekadar perhiasan dunia dan hawa nafsu belaka? Ketahuilah bahwa yang telah berpengalaman, lebih mengenal dan lebih dewasa.


Jika rupanya betul karena ibadah dan takwa, maka ceritakan itu ke mereka yang telah berpengalaman.

Namun, saya ingin sebutkan untuk siapapun di sini kalam Ibnul Jauzy -rahimahullah-. Tentang orang yang telah menikah dengan lebih dari seorang perempuan. Dan hasratnya masih terus, karena memang begitulah tabiat. Beliau berkata:

ظن أنه يجد عندها ما ليس عندهن!

“Dia mengira bahwa dia akan menemukan di perempuan (asing) tersebut, apa yang tidak ada pada mereka (istri-istrinya).”

Lalu ia memperjuangkan untuk mendapatkannya. Penasaran. Merasa istri-istrinya masih kurang. Perlu pelengkap. Ia kemudian menyana bahwa pada insan baru ini ada hal baru, berbeda dan menyemangatinya.


Kemudian beliau berkata:

ولعمري، إن في الجدة لذة، ولكن، رب مستور إذا انكشف افتضح.

“Sungguh, dalam hal yang baru memang ada kenikmatan. Tetapi, boleh jadi yang tadinya tertutup, jika disingkap, akan tampak buruknya.” [Shaid al-Khathir]

Acapkali dunia itu terasa indah justru sebelum mendapatkannya. Setelah ia mendapatkannya, membuka bungkusnya, merasakannya, ternyata ia merasakan apa yang pernah dirasakan. Seterusnya ia ingin lebih. Atau sebaliknya, ada bangunan yang telah dihancurkan.

Kecuali jika dunia digenggam karena demi berpijak untuk akhirat. Maka, ia akan merasakan iman dan kekhusyuan di setiap khuthuwat. Hanyasaja, banyak orang -khususnya ‘pejuang poligami’- tidak jujur dalam hal ini.
Lisan mereka berkata akhirat, namun hati mereka merindu dunia.

Jika ingin berjuang, perjuangkan terlebih dahulu kemapanan i’tikad, niat dan ibadah. Semoga Allah permudah bagi orang bertakwa.

Ustadz Hasan Al Jaizy

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑